PENERAPAN “REFLECTION MODEL GIBBS” DALAM KEPANITIAAN YUDISIUM DI MASA PANDEMI COVID-19

Berawal dari hasil pengalaman pribadi yang terjadi baru-baru ini tahun 2020, saya hendra priyatnanto ditunjuk untuk menjadi ketua panitia dalam mengkoordinir anggota panitia dalam kegiatan yudisium tahun akademik 2019-2020. Setelah di terbitkannya SK Ketua Institusi terkait Panitia Yudisium tersebut memberikan saya wewenang untuk mengatur anggota panitia dalam persiapan yudisium, dimana kami diberikan waktu ± 7 hari sebelum hari H Pelaksanaan yudisium tersebut. Kami berjumlah 12 orang.

Sebagai ketua hal pertama yang saya lakukan adalah membuat grup whatapps dan membagikan SK terkait Panitia Yudisium tersebut didalam grup serta mengundang semua anggota untuk rapat perdana dalam persiapan, pembagian tugas serta konsep apa yang akan digunakan pada saat yudisium nanti. Dikarenakan yudisium dimasa pandemi corona ini, maka kami harus mengirimkan permohonan izin untuk melaksanakan kegiatan keramaian khususnya yudisium kepada gugus tugas pemerintah kota pontianak. Setelah 2 hari kemudian, kami mendapatkan informasi berupa surat balasan bahwa kami tidak dizinkan untuk melaksanakan keramaian, dikarenakan kondisi tersebut sedang zona merah, sehingga kami diberikan persyaratan jika masih tetap melaksanakan kegiatan tersebut, maka tidak lebih dari 50 orang.

Dikarenakan hal tersebut, semula kami mengkonsepkan kegiatan secara offline/luring, maka saya mengambil keputusan bahwa kegiatan akan kami konsep secara offline dan online, dimana sebagian besar peserta yudisium ikut serta secara online sedangkan mahasiswa yang berprestasi 3 besar di tiap program studi mengikuti yudisium secara offline. Hal tersebut tidak mendapatkan sambutan baik dari mahasiswa berhubung mereka ingin menyaksikan yudisium secara offline, namun saya sebagai ketua panitia harus memastikan kegiatan tersebut berjalan lancar dan sesuai dengan harapan.

Berdasarkan dari kasus diataslah, penulis mencoba untuk menggambarkan bagaimana cara penerapan Reflection Model Gibbs dalam Kepanitiaan Yudisium di Masa Pandemi Covid-19. Maka didapatkan beberapa tahapan siklus refleksi dalam pandangan Gibbs yaitu sebagai berikut:

  • Description

Kasus ini merupakan hasil pengalaman pribadi yang terjadi baru-baru ini di tahun 2020, setelah di terbitkannya SK Ketua Institusi terkait Panitia Yudisium tersebut memberikan saya wewenang untuk mengatur anggota panitia dalam persiapan yudisium, dimana kami diberikan waktu ± 7 hari sebelum hari H. Kami berjumlah 12 orang. Sebagai ketua hal pertama yang saya lakukan adalah membuat grup whatapps dan membagikan SK terkait Panitia Yudisium tersebut didalam grup serta mengundang semua anggota untuk rapat perdana dalam persiapan, pembagian tugas serta konsep apa yang akan digunakan pada saat yudisium nanti. Dikarenakan yudisium dimasa pandemi corona ini, gugus tugas pemerintah kota setempat tidak mengizinkan untuk melaksanakan keramaian, dikarenakan kondisi tersebut sedang zona merah, sehingga kami diberikan persyaratan jika masih tetap melaksanakan kegiatan tersebut, maka tidak lebih dari 50 orang dan menerapkan protokol kesehatan dilaksanakan offline dan online dengan protokol Kesehatan melalui zoom, video, dan sebagainya, sehingga saya sebagai ketua panitia mengambil keputusan bahwa harus perekrutan anggota panitia lagi untuk mensupport hal tersebut untuk memastikan kegiatan tersebut berjalan lancar dan sesuai dengan harapan

  • Feelings

Pada saat kejadian kejadian itu, saya awalnya merasa kecewa dengan keputusan hasil gugus tugas covid-19 yang tidak memberikan izin kepada kami untuk melaksanakan kegiatan yudisium secara offline, disebabkan hal tersebut saya harus mendapatkan penolakan dari beberapa mahasiswa yang saya rasa akan menghambat jalannya kegiatan yudisium tersebut. Kemudian saya sedikit panik dan cemas panitia yang di SK kan tidak mampu untuk melakukan kegiatan secara online dan offline karenaka keterbataan ilmu dan pengalaman tentang teknologi sehingga saya harus mengambil keputusan lagi secara kritis dan tepat untuk menyelesaikan hal tersebut dengan merekrut lagi anggota yang baru untuk membantu dalam kegiatan tersebut.

  • Evaluation

Hal yang sudah benar yang telah saya lakukan ketika menjadi pemimpin atau ketua yaitu langsung membuat grup untuk mempermudah berkomunikasi dan mengkoordinir anggota panitia, kemudian mengadakan rapat perdana  sebagai pesiapan dan pembagian tugas serta mendiskusikan konsep yang akan dilaksanakan. Kemudian hal yang sudah benar yang saya lakukan adalah pengambilan keputusan yang cepat dan tepat setelah mendapatkan surat balasan tidak diizinkannya pelaksanaan kegiatan kecuali dengan memenuhi syarat dan sesuai protokol kesehatan yaitu dengan menggunakan konsep offline dan online dengan menerapkan protokol kesehatan serta hal yang sudah tepat juga yang saya lakukan adalah dengan merekrut anggota panitia yang baru untuk membantu dalam mensukseskan kegiatan tersebut.

  • Analysis

Membuat grup whatapps dan melakukan koordinasi dengan panitia lainnya merupakan salah satu hal yang dapat memantau dan mengontrol panitia dalam melaksanakan tugas dan perannya masing-masing.

Melakukan izin pada masa pandemi ini hal yang tepat saya lakukan sebab pada kondisi sekarang kita tidak bisa secara sembarangan melakukan kegiatan meskipun hal tersebut baik dan positif menurut kita.

Pengambilan keputusan untuk kegiatan secara online dan offline saya ambil untuk mengurangi kekecewaan mahasiswa yang menginginkan yudisium secara langsung, sehingga keputusan tersebut harus saya ambil dengan merekrut panitia baru untuk mensukseskan kegiatan tersebut.

Setelah kita ketahui beberapa kejadiaan tersebut, saya menilai bahwa gaya kepemimpinan yang saya lakukan adalah gaya kepemimpinan situasional yaitu gaya kepemimpinan yang berbeda-beda tergantung kesiapan para pengikutnya, pengaruh situasi dan lingkungan sekitarnya.

  • Conclusion

Dari pengalaman kasus ini, dapat disimpulkan bahwa koordinasi, kerjasama, menimbang dan keputusan yang benar dapat menghasilkan sesuatu yang memuaskan  dan sesuai dengan harapan. Dikaitkan dengan gaya kepemimpinan yang saya lakukan yaitu gaya kepemimpinan situasional mampu menjadi solusi gaya kepemimpinan yang efektif dimana gaya kepemimpinan ini menyesuaikan kesiapan anggota atau bawahan serta menyesuaikan dengan faktor-faktor pengaruh seperti situasi dan lingkungan sekitar.

  • Action Plan

Berangkat dari kejadian tersebut, bahwa koordinasi, kerjasama dan pengambilan keputusan sangat penting untuk mencapai suatu tujuan, sehingga kedepannya saya berharap jika ditempatkan pada situasi yang sama maka saya akan meningkatkan cara berkoordinasi, berkomunikasi, melihat factor pendukung dan pengambat sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan sehingga berharap gaya kepemimpinan yang akan diterapkan menjadi gaya kepemimpinan yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah/ memberikan solusi sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Setelah  merefleksikan berbagai macam tahapan siklus refleksi menurut pandangan Gibbs, maka penulis mendapatkan beberapa hal yang penting untuk mencapai tujuan dari suatu tindakan/situasi sehingga kedepannya dapat menjadi lebih baik lagi. Meningkatkan yang sudah baik dan merubah yang belum baik menjadi semakin baik. Itulah manfaat dan hasil yang kita dapatkan setelah merefleksikan sesuatu baik itu pengalaman, pembelajaran dan hal lainnya.

Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan manfaat kepada penulis pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Aamiin allahumma aamiin…

===================================
Penulis: Ns. Hendra Priyatnanto, S.Kep.