PANDEMI COVID-19 DAN DAMPAKNYA TERHADAP QUARTER LIFE CRISIS

Sudah hampir dua tahun belakangan ini,wabah virus Covid-19 tak kunjung usai menyebabkan banyak individu mengalami masalah. Tak melulu masalah fisik, tetapi masalah kesehatan mental pun saat ini menjadi satu permasalahan yang menarik perhatian. Pada Masa covid 19, banyak timbul masalah kesehatan jiwa dan psikososial, terkait perubahan dalam  tata kehidupan baru. Masalah kesehatan jiwa yang timbul seperti kondisi penyakitnya sendiri,ketakutan akan penularan, perasaan bosan dan stres karena isolasi mandiri atau bekerja/sekolah dari rumah, masalah ekonomi karena banyaknya PHK, menjadi potensi yang besar untuk timbulnya gangguan jiwa. Rasa ketakitan dan khawatir tertular, atau pasa orang-orang yang dinyatakan positif atau menjalani perawatan karena terinfeksi Covid-19, penolakan oleh masyarakat, menimbnulkan ketakutan dan kecemasan yang tinggi. Akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa, juga terganggu. Karena adanya pembatasan layanan di pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan jiwa, dan adanya keterbatasan transportasi dan pembatasan sosial untuk wilayah-wilayah tertentu, menyebabkan terbatasnya akses masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan, termasuk layanan kesehatan jiwa.

Berbagai gejala psikologis dapat terjadi pada sebagian orang. Gejala awal yang terjadi adalah khawatir, gelisah, panik, takut mati, takut kehilangan kontrol, takut tertular, dan mudah tersinggung. Jantung berdebar lebih kencang, nafas sesak, pendek dan berat, mual, kembung,diare, sakit kepala, pusing, kulit terasa gatal, kesemutan, otot otot terasa tegang, dan sulit tidur yang berlangsung selama dua minggu atau lebih. Sebagian besar masyarakat tidak mengetahui kemana mereka harus mencari pertolongan karena kondisi-kondisi psikologis yang dirasakan, ditambah dengan terbatasnya akses karena pembatasan wilayah ,menyebabkan banyak masalah kesehatan jiwa akibat Pandemi Covid-19 yang belum bisa ditangani dengan baik.

Selain itu, banyak individu yang juga mengalami quarter life crisis. Menurut Stapleton (2012), quarter life crisis mempengaruhi 86% dari generasi millenial, yang menemukan bahwa generasi tersebut mengalami kegelisahan kekecewaan, kesepian, dan depresi. Quarter crisis life banyak dialami oleh individu usia 20-30 tahun. Rentang usia tersebut merupakan usia dewasa awal. Masa dewasa awal merupakan peralihan atau bisa disebut dengan transisi. Macrae (2011), dalam penelitiannya melaporkan bahwa banyak dewasa muda pada usia 20-30an mengalami serangan panik dan merasa meragukan kemampuan dirinya sendiri untuk menjalankan kehidupan pada masa dewasa sebagai akibat dari krisis ini. Berdasarkan sekilas paparan dan hasil penelitan dapat dikatakan bahwa masa transisi dari remaja menuju dewasa adalah sebuah transisi yang kompleks. Terdapat banyak stressor yang mengarah pada berbagai kesulitan, sehingga individu merasa terjebak dan kehilangan arah dalam masa dewasanya. Individu mulai merasa sulit menghadapi dunia, sulit mengatur emosi, hingga mulai mempertanyakan apakah kehidupannya yang akan dijalani telah berada di jalan yang benar atau tidak.

Hal ini sama halnya  ketika seorang individu selalu mengkhawatirkan tidak mendapatkan pekerjaan mengingat kondisi pandemik yang membuat situasi perekonomian menjadi sulit. Pada lulusan yang sudah bekerja, partisipan merasa terjebak dalam pilihan hidup karena pekerjaan yang tidak sesuai dengan identitas diri dan harapan. Quarter life crisis, tidak sepenuhnya membahayakan apabila dapat ditangani dengan tepat. Banyak intervensi yang dapat digunakan untuk menangangi quarter life crisis, diantaranya adalah talking therapy. Talking therapy atau terapi berbicara merupakan suatu kesempatan yang diberikan kepada seseorang untuk mengeskplorasi pikiran dan perasaan serta pengaruhnya terhadap perilaku dan suasana hati seseorang. Menggambarkan apa yang terjadi dikepala seseorang dan bagaimana perasaan seseorang untuk dapat melihat sesuatu yang perlu diubah. Talking therapy dapat membantu seseorang mengetahui dari mana perasaan dan gagasan negatif berasal dan mengapa hal itu ada. Serta membantu memahami seseorang membuat perubahan positif dengan cara berpikir atau bertindak secara berbeda.  Selain menggunakan talking therapy, dapat pula menggunakan self talk positive. Self-talk adalah dialog internal diri. Ini dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar, dan itu mengungkapkan pikiran, keyakinan, pertanyaan, dan ide seseorang.

 Self-talk bisa negatif dan positif. Itu bisa membesarkan hati, dan bisa juga menyusahkan. Self-talk tergantung pada kepribadian. Jika kita merupakan seorang yang optimis, self-talk tersebut mungkin lebih penuh harapan dan positif. Hal sebaliknya akan menjadi negatif apabila kita merupakan orang yang pesimis.                 Seperti yang kita ketahui tentunya untuk melakukan intervensi tersebut tidak mudah, apalagi jika dilakukan tanpa ada dukungan dari keluarga ataupun masyarakat. Demi meminimalisir kaum muda agar tidak mengalami quarter life crisis yang akan menyebabkan menurunnya produktivitas, kita sudah seharusnya memberikan dukungan. Meskipun bukan dukungan finansial tetapi perlunya dukungan moril yang akan membuat seseorang merasa ada dan bangga akan diri sendiri dan pencapaiannya.

Meluluhkan quarterlife crisis memang bukanlah hal yang mudah. Hal ini juga jika tidak didasari oleh keinginan untuk berubah maka krisis tersbut akan menguasai kita. Sudah menjadi hal yang wajib untuk kita tanamkan dalam diri, khususnya kaum muda yang hidupnya penuh dengan dilema agar dapat berpikir kedepan dan kritis guna meningkatkan kemajuan bangsa dan negara. Mulailah menghargai diri sendiri, bangga pada diri sendiri, yakinlah bahwa apa yang kita miliki dan percaya pada kemampuan kita adalah kunci utama untuk menjadi manusia kuat.

————————————————————

Penulis: Ns. Beta Karlistiyaningsih, S.Kep.

————————————————————