Dampak Pola Asuh Overprotective

Setiap orang tua memiliki pola asuh berbeda pada buah hatinya. Mulai dari memberi kebebasan sepenuhnya, kebebasan dalam pengawasan, hingga pada pola asuh yang terlalu protektif dimana orang tua selalu mengawasi gerak-gerik dan sulit percaya pada anak. Padahal, tanpa disadari, pola asuh terlalu protektif ini akan berdampak pada penyesuaian diri anak.

ANAK merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Ketika anak lahir dan hadir di tengah keluarga kecil, orang tua akan melakukan apapun untuk membahagiakannya. Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara normal dan optimal.

Beragam tipe pola asuh coba diterapkan orang tua pada buah hati tercinta, mulai dari pola asuh permisif, pola asuh acuh tak acuh, pola asuh demokratis, pola asuh otoriter, serta pola asuh narsistik. Selain itu, ada pola asuh yang menyesuaikan dengan keadaan, atau biasa dikenal dengan istilah slow parenting. Ada juga pola asuh inkonsisten, pola asuh yang meracuni atau biasa dikenal dengan istilah toxic parenting. Serta, pola asuh yang terlalu protektif, dimana kasih sayang dan perhatian yang diberikan dinilai berlebihan.

Psikolog, Dwi Surya Purwanti, M.Psi mengatakan pola asuh overprotective ini adalah sebuah bentuk pengasuhan yang diterapkan orang tua pada anaknya dengan memberikan perhatian dan kasih sayang secara berlebihan.
orang tua yang menerapkan pola asuh terlalu protektif selalu berusaha memberikan perlindungan terhadap gangguan dan bahaya fisik maupun psikologis.

Biasanya alasan orang tua melakukan hal ini dikarenakan mereka sulit mendapatkan anak atau selama kehamilan ibu mengalami banyak kendala. Bisa dikarenakan proses melahirkan yang dirasa sangat sulit untuk dilalui sang ibu,
Atau dari kecil anaknya sering mengalami sakit, sehingga membuat orangtuanya merasa cemas dan takut akan terjadi sesuatu.

Orang tua yang menerapkan pola asuh ini biasanya akan membentengi anak-anaknya dengan kalimat ‘jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu. Termasuk juga ‘sini biar bunda atau ayah yang hadapi’.

Anak yang terbiasa hidup dengan pola asuh overprotective kelak akan tumbuh menjadi anak yang manja. Anak tak akan bisa mandiri. Anak tak bisa bergerak bebas untuk mengekspresikan dirinya, hal yang paling menonjol pada anak yang mendapatkan asuhan overprotective tak dapat bersosialisasi dengan baik. “Anak akan selalu merasa takut untuk berhadapan dengan orang baru atau beradaptasi di lingkungan baru,” tutur Dwi.

Anak juga akan menjadi egois, sulit berbagi dengan orang lain, dan cenderung menjadi anak yang dependent. Dwi menyatakan perilaku ini akan berlanjut hingga anak beranjak remaja. Saat remaja, anak akan semakin erat dengan penyimpangan pada penyesuaian dirinya. Dimana saat remaja ruang lingkup sosial anak semakin luas.

Orang tua juga sudah tak bisa lagi sepenuhnya untuk mengikuti ke manapun anaknya pergi. Remaja yang normal adalah yang dapat berkembang sesuai dangan fase usia mentalnya. Dimana dapat memiliki banyak teman dan mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Selain itu, anak dapat dengan mudah menyelesaikan setiap permasalahan yang ia miliki. “Tentunya, tanpa harus meminta bantuan penyelesaian dari orang tuanya,” ungkapnya.

Dwi menyarankan orang tua lebih mau mendengar cerita dan memberi anak semangat. Baik disaat anak bahagia, jatuh, terluka, dan kecewa. Dengan begitu, diharapkan anak dapat menempa pribadinya sendiri menjadi anak yang tangguh, dapat bersosialisasi dengan baik, dan bergerak bebas dikemudian hari. (ghea/ Kominfo)

Jika anda membutuhkan Konsultasi, silahkan KLIK ikon daring dibawah ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *