PSYCHOLOGY CORNER: Perubahan Emosional Si Buah Hati

Mengamati perkembangan buah hati selalu jadi momen istimewa bagi orang tua. Tak hanya perkembangan motorik dan sensorik, kondisi emosional buah hati juga berkembang pesat seiring dengan pertambahan usianya. Ada kalanya anak berperilaku murung tanpa sebab yang berujung tangisan tiada henti.

Bisa menghadirkan ragam suasana perasaaan, termasuk perubahan suasana hati (moody), seringkali seseorang yang mengalami, pikiran, maupun emosi yang berubah-ubah. Di awal ia bisa merasa sedih, tetapi dalam hitungan menit rasa sedih itu berubah menjadi kebahagiaan. Tak heran orang dengan kepribadian ini tergolong labil, sensitif, dan mudah tersinggung.

Perubahan suasana hati tak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Anak-anak juga bisa merasakan hal tersebut. Meski termasuk kategori normal, tetapi perubahan suasana hati yang dirasakan satu orang anak bisa melebihi anak-anak lainnya. Bahkan, pada beberapa kasus yang pernah terjadi, seorang anak dengan tingkat perubahan suasana hati yang lebih ini diharuskan mendapatkan penanganan medis.

Psikolog, Dwi S. Purwanti, M.Psi mengatakan pada dasarnya perubahan suasana hati pada anak disebabkan adanya proses untuk mempelajari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan. Tentu saja hal ini tak terlepas dari lingkungan yang kondusif maupun non kondusif. Pada masa ini anak akan belajar memetakan bagaimana seharusnya ia bersikap dalam merespon sesuatu.

Dalam pengasuhan anak peran orang tua sangatlah penting. “Orang tua atau siapapun yang terlibat dalam pengasuhan anak berperan sebagai penetralisir atas informasi atau pesan yang anak terima dari lingkungan sekitarnya, terutama informasi yang sifatnya negatif ataupun informasi yang tidak komplit,” ujarnya.

Apabila orang tua atau yang terlibat dalam pengasuhan anak tidak dapat memfasilitasi hal ini dengan baik dan tak bisa mengarahkan anak dalam bersikap terhadap respon yang membuatnya kurang nyaman, maka anak akan tumbuh dengan caranya sendiri.

Pesan atau informasi yang kurang tepat diterima dan dipelajari oleh anak akan berdampak pada pola tingkah laku sehari-harinya. Jika dibiarkan hal ini akan membentuk karakter anak.

Kepala Bagian P2SDM Stikes Yarsi Pontianak ini menuturkan banyak hal yang dapat memicu perubahan suasana hati, diantaranya karena anak tak pernah diarahkan untuk menyalurkan emosi negatifnya. Bisa juga disebabkan adanya sibling rival, perbedaan pemberian perhatian dari orang tua kepada anak-anaknya. Serta, bisa juga karena faktor yang dia pelajari atau mencontoh sosok yang sering ia amati di kesehariannya.

Perubahan suasana hati yang dialami anak kerap memancing emosi orang tua. Namun, perubahan suasana hati yang dirasakan anak tergolong wajar. Anak-anak belum bisa mengungkapkan secara diplomatis apa yang diinginkan dan dirasakannya. Anak hanya bisa menunjukkan perubahan hati lewat sikap. Karena di usia tiga tahun, anak sudah bisa mengekspresikan perasaannya yang lebih sensitif dan memahami komunikasi dua arah.

Meski wajar terjadi, orang tua tetap harus mengawasi dan memberi pemahaman pada anak. Jika dibiarkan dan tak dinetralisir, perubahan hati akan berdampak pada perkembangan emosional anak. Tak hanya akan memiliki kepribadian yang buruk, anak akan kesulitan memahami dan memilah mana yang pantas untuk ditanggapi dengan serius, dan yang ditanggapi hanya sebagai candaan. Anak pun menjadi kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Dwi menyarankan, agar orang tua tidak membiarkan anak menafsirkan sendiri tentang apa yang ia rasakan saat perubahan suasana hatinya menjadi tak baik. Orang tua harus mencari celah untuk mengalihkan perhatian anak. Tujuannya agar perubahan suasana hati anak yang sedang tak baik dapat segera teredam. Orang tua bisa memberi pelukan pada anak, karena pelukan segera mengubah emosi negatif menjadi positif.

“Jika anak sudah bisa diajak bicara, berikanlah perhatian dengan mendengarkan keluh kesah yang membuat suasana hatinya buruk. Beri pengertian atau kesimpulan pada anak tentang apa yang ia ceritakan tersebut,” ungkapnya.

Terakhir lanjut Dwi, orang tua tak bersikap emosional ketika menghadapi anak yang sedang mengalami perubahan hati. Hindari juga bersikap kasar dalam menghadapi perubahan suasana hati anak. Hal ini akan membuat buah hati semakin tertantang untuk melakukan aksi perubahan suasana hati yang lebih ekstrem dari biasanya. Alangkah lebih baik orang tua memberikan pengasuhan yang penuh kelembutan.

“Meski penuh kelembutan, orang tua harus tetap menginput unsur ketegasan dalam mengambil sikap atas apa yang dilakukan oleh anak. Karena perubahan suasana hati bukan dari faktor keturunan, melainkan pembelajaran yang salah diadopsi oleh anak terhadap lingkungan sekitarnya,” tutup Dwi. (ghe/ Kominfo)

Jika anda membutuhkan Konsultasi, silahkan KLIK ikon daring dibawah ini:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *